Terbentuknya Alam Semesta Dilihat dari Teori Pendukungnya

Terbentuknya Alam Semesta Dilihat dari Teori Pendukungnya

detribpas.com – Tidak ada yang tahu sebenarnya bagaimana bisa terbentuknya alam semesta. Alam semesta atau biasa disebut dengan galaksi dan jagat raya bukan hanya terdiri dari bumi saja, melainkan juga benda lainnya.

Anda mungkin juga tidak akan mempercayai bahwa betapa luasnya ruang angkasa yang sangat besar. Selain itu, ada banyak benda luar angkasa yang ukurannya sangat besar dan jumlahnya ratusan bahkan ribuan.

Selama berabad-abad, para ilmuan selalu mengira jika semesta ada dalam bentuk tetap. Maksudnya, benda-benda di dalamnya terus dalam keadaan sama, tidak berputar seperti jarum jam.

Pemikiran itu ternyata berbeda dengan seorang pendeta dan ilmuan asal Belgia yakni George Lemaitre. Dikatakan bahwa terbentuknya alam semesta dimulai dari atom dewasa, mengandung, dan melahirkan.

Pernyataannya tersebut ternyata kurang mendapatkan perhatian, tetapi pada tahun 1929 seorang astronom Edwin Hubble. Edwin Hubble mengemukakan bahwa alam semestanya atau jagat raya tidak statis, tetapi sebenarnya mengembang.

Mengenal 7 Galaksi di Semesta

Jagat raya tidak pernah berhenti membuat kagum akan kisah-kisah di balik misteri pembentukannya. Apalagi, ada tujuh galaksi dari terbentuknya alam semesta, berikut ini merupakan beberapa informasi dari ke tujuh galaksinya.

Terbentuknya Alam Semesta Dilihat dari Teori Pendukungnya

  1. Milky the Way

Milky the Way Bima Sakti merupakan galaksi ditinggali makhluk hidup. Galaksinya berbentuk spiral serta memiliki batang pada bagian tengah spiralnya. Untuk ukurannya hampir Rp. 1500.000-200.000 tahun cahaya.

  1. Magelian

Galaksi lain dari hasil terbentuknya alam semesta adalah Magelian yang berukuran 14 ribu tahun cahaya. Tidak hanya itu, ada juga 17 ribu cahaya. Magerian bisa memiliki jarak 160.000 tahun cahaya.

  1. Andromeda

Andromeda atau lebih dikenal dengan sebutan M31, menjadi salah satu yang terdapat pada bumi tempat tinggal manusia. Andromeda juga menjadi yang paling terang diantara galaxy lainnya.

  1. Sombrero

Hampir sama seperti galaksi bima sakti, tapi Sombrero memiliki bentuk yang membuatnya seperti topi. Terletak di sekitar 28 juta cahaya, Sombrero dianggap sebagai benda angkasa paling kuat di gugusnya.

  1. Cartwheel

Galaksi hasil dari terbentuknya alam semesta yang memiliki bentuk mirip seperti roda gerobak besar. Terdapat pusat terang di sekelilingnya yang membuatnya terlihat seperti memiliki gerigi besi pada roda.

  1. Black Eye

Disebut sebagai black eye karena memiliki tampilan mirip seperti titik terang yang dikelilingi oleh pita debu. Debu-debunya dipercaya terjadi karena adanya tabrakan atau gesekan dengan galaksi lainnya.

  1. Sunflower

Memiliki nama seperti sebuah bunga, galaksinya memiliki jarak sekitar 27 juta tahun cahaya dari Bumi. Namanya sendiri diberikan karena memiliki spiral rapat pada lengannya sehingga membentuk seperti bunga matahari.

BACA JUGA:  Aurora dalam Sains, Fenomena Alam Langka di Langit

Mengenal Teori Terbentuknya Alam Semesta

Terdapat beberapa pernyataan yang dipercaya sebagai teori asal usul atau pembentukan jagat raya. Teori-teori tersebut tidak muncul begitu saja, tapi melalui pengamatan yang cukup lama sehingga bisa menyimpulkannya menjadi teori.

Teori yang banyak menarik perhatian adalah Big Bang, di mana dijelaskan jika jagat raya terbentuk dari adanya sebuah ledakan. Teorinya banyak dipercaya karena dinilai lebih masuk akan dibandingkan lainnya.

BACA JUGA:  Proses Gunung Api Meletus, Faktor dan Tanda Terjadinya

Pencetus Big Bang sebagai teori terbentuknya alam semesta adalah Alexandra Friedman di tahun 1922. Teorinya dikembangkan ulang oleh Hubble yang menyatakan adanya perkumpulan bintang-bintang di satu titik.

Bintang tersebut mulai bergeser mendekati spektrum berwarna merah. Pergeseran merupakan bentuk akibat dari adanya ledakan yang mengakibatkan bintang mulai menjauhi bumi, dengan perlahan saling menjauh satu sama lain.

Namun, teorinya sempat mengalami penolakan terutama ketika ditemukannya teori keadaan tetap milik Hoyle. Hoyle mengatakan bahwa ukuran jagat raya tidak memiliki batasan waktu atau berlaku sepanjang masa.

Adanya kedua pernyataan tersebut membuat banyak ilmuwan penasaran, sebenarnya bagaimana sistem alam semestanya. Hingga akhirnya dilakukan penelitian oleh banyak ilmuwan tentang bagaimana terbentuknya alam semesta.

Hingga akhirnya, para ilmuwan menyatakan bahwa ada pergerakan di luar angkasa dan menyangkal teori ketetapan. Dengan begitu, Big bang akhirnya dipercaya sebagai teori paling masuk akal.

Hingga sekarang, masih belum ada ilmuwan yang menemukan atau mengemukakan teori-teori lain tentang bagaimana pembentukan semestanya. Oleh sebab itu, teorinya masih digunakan dan dipercaya hingga saat ini.

BACA JUGA:  Mengetahui Fenomena Hujan Meteor dan Seluk Beluknya

Pembuktian Ledakan Big Bang sebagai Teori Terbentuknya Semesta

Terbentuknya Alam Semesta Dilihat dari Teori Pendukungnya

Adanya sebuah teori tidak akan langsung diterima tanpa adanya bukti-bukti pendukung. Apalagi, kepercayaan itu bertahan hingga sekarang di mana kehidupan manusia sudah canggih karena telah memasuki era digital.

Bukti pertama jika Big bang merupakan teori pembentuk semesta adalah adanya gelombang mikro kosmis. Gelombang mikro kosmis dikatakan sebagai latar belakang dari radiasi yang dihasilkan dari ledakan.

Pada awalnya, semesta berada dalam kondisi keseimbangan termal atau keadaan yang dicapai akibat adanya keterbatasan sistem. Hal itu menghasilkan kondisi foton yang saling berkesinambungan. Foton tersebut dipancarkan dan diserap ulang.

Penyerapan ulang foton disebut-sebut menciptakan radiasi spectrum. Ledakan dari Big Bag mengakibatkan suhu menurun sehingga foton tidak bisa diciptakan kembali atau dihancurkan. Karena itulah foton-foton dipantulkan lagi dari elektron bebas.

Bukti lain dari Big Bang sebagai teori terbentuknya alam semesta adalah terdapat kelimpahan unsur primordial. Hal itu membuat manusia bisa memperkirakan apa saja konsentrasi yang ada di jagat raya ini.

Permisalannya adalah proses memprediksi rasio perbandingan dari banyaknya konsentrasi. Meski masih banyak perbedaan dari prediksinya, dan belum tentu benar juga, hal itu sebenarnya sudah memberikan hasil terbaiknya.

Masih banyak ilmuwan sains yang mendalami, mencari jawaban dan teori baru dari permasalahan bagaimana bisa terbentuk semesta. Untuk sekarang ini, terbentuknya alam semesta masih kuat dengan teori ledakan Big Bang. (Red-detribpas.com)