Mengetahui Fenomena Hujan Meteor dan Seluk Beluknya

Mengetahui Fenomena Hujan Meteor dan Seluk Beluknya

detribpas.com – Fenomena hujan meteor dinantikan oleh banyak orang karena keindahannya dapat disaksikan dengan mata telanjang. Meskipun mungkin terjadi di sepanjang tahun, namun cukup langka. Selain itu, perlu berada di tempat tanpa polusi udara jika ingin menikmatinya.

Menurut Lapan, meteor merupakan sebuah istilah pada astronomi untuk menyebutkan benda langit yang jatuh di luar angkasa. Definisi secara harfiah merupakan jalur jatuh dari serpihan benda angkasa biasa disebut meteroid menuju atmosfer bumi.

Sedangkan fenomena hujan meteor merupakan meteroid yang jatuh melewati permukaan bumi dengan jumlah banyak. Ketika sampai bumi, maka akan terlihat seperti cahaya hujan yang sangat indah.

Sudah tentu adanya peristiwa alam ini karena adanya proses dan faktor penyebabnya. Selain itu, tidak banyak yang mengetahui jika ada beberapa jenisnya yang pernah terjadi dan terlihat di bumi.

Mengetahui Penyebab Fenomena Hujan Meteor

Fenomena ini terjadi karena beberapa sebab. Pertama adalah bertemunya lintasan atau disebut juga dengan orbit antara komet dan bumi karena orbit dari planet maupun komet berbentuk elips.

Mengetahui Fenomena Hujan Meteor dan Seluk Beluknya

Ketika kedua benda langit ini berdekatan, maka muncul energi yang menimbulkan gesekan. Fenomena hujan meteor ini juga akhirnya menyebabkan volume pada meteor memasuki bumi semakin meningkat dan mendadak.

Peningkatan mendadak akan membuatnya menjadi kehilangan daya untuk tetap bertahan dalam orbit. Hal inilah yang akhirnya membuat fenomena akhirnya terjadi di beberapa bagian wilayah bumi.

BACA JUGA:  Aurora dalam Sains, Fenomena Alam Langka di Langit

Mengenal Proses Fenomena Hujan Meteor

Fenomena dari hujan meteor terjadi melalui beberapa proses, meskipun tidak melalui siklus seperti yang terjadi pada hujan air. Pertama adalah ketika bumi melewati pecahan komet ketika mengorbit matahari.

Proses selanjutnya, bumi akan bersinggungan dengan orbit komet yang berbentuk elips tersebut. Nantinya komet akan terlihat seperti memiliki ekor karena melewati matahari yang sangat panas.

Ekor pada meteor sebenarnya merupakan partikel debu yang menjadi inti komet itu sendiri. Semakin lama debu maupun kotoran yang melewati matahari menjadi panas kemudian hancur dan tampak menyerupai ekor yang panjang jika terlihat dari bumi.

Inti komet yang hanya tinggal puing-puing akan hancur saat melintasi orbit dari bumi dan terlihat seperti hujan. Puncak fenomena hujan meteor juga terlihat ketika partikel komet berukuran sebesar pasir terbakat di atmosfer bumi dan menghasilkan cahaya jatuh.

Meski telah menuju arah bumi dan bergesekan dengan atmosfer, namun sisa komet ini tidak akan sampai ke bumi. Beberapa yang sampai menghantam bumi karena ukurannya yang lebih besar jika dibandingkan lainnya.

Jenis-jenis Hujan Meteor yang Perlu Anda Ketahui

Sudah terjadi banyak fenomena hujan meteor yang terlihat di bumi dengan jenis-jenis tersendiri. Berikut adalah berbagai jenis serta penjelasannya untuk mengetahui perbedaan masing-masing.

Mengetahui Fenomena Hujan Meteor dan Seluk Beluknya

  1. Perseid

Jenis ini ada pada konstalasi Peseus dan diperkirakan memiliki kecepatan 60 km per jam dengan kilatan dan ekor cahaya panjang. Asalnya dari serpihan komet swift Tuttle yang mengorbit matahari setiap 130 tahun sekali dan hanya terlihat di bagian bumi utara.

BACA JUGA:  Cara Kerja Vaksin Melindungi Tubuh dari Ancaman Penyakit

Terjadi pada pertengahan Juli hingga Agustus, para ahli menyebut jika Parseid berbahaya untuk planet bumi sekitar 2126 karena jarak yang sangat dekat. Karena terlalu dekat, maka bisa masuk bumi dalam ukuran besar dan tidak terbakar habis di atmosfer.

  1. Orinoid

Berasal dari konstalasi Orion, fenomena hujan meteor ini muncul di minggu terakhir bulan Oktober. Ciri-cirinya adalah muncul 15 hingga 20 meteor dengan warna hijau dan juga kuning pada setiap jam dan terlihat jelas pada dini hari hingga 05.00 pagi.

  1. Geminid

Berbeda dari lainnya, jenis Geminid tidak berasal dari komet namun asteroid dengan sebutan Palladian bernama 3200 Phaeton. Terjadi pada pertengahan Desember setiap tahunnya dengan puncak tanggal 13 atau 14 Desember.

Pertama kali terjadi tahun 1862 dan hanya dapat terjadi di belahan bumi utara atau selatan. Ketika meteor terjadi, maka akan muncul berbagai warna seperti kuning, putih, hijau dan juga merah.

  1. Leonid

Sesuai namanya, adanya fenomena hujan meteor Leonid berasal dari rasi Leo dan pecahat komet Swift Temple Tuttle yang melintas bumi setiap 33 tahun sekali. Sebelumnya, jenis ini disebut penghasil badai meteor dan dapat terlihat hanya dengan mata telanjang.

Jika ingin melihatnya, maka harus berada di tempat yang benar-benar gelap dan tidak ada cahaya bulan. Untuk kasusnya, tercatat pernah terjadi pada tahun 1966, 1999, juga pada tahun 2002 dengan lebih dari hingga 3.000 meteor pada setiap menitnya.

  1. Lyrid

Berasal dari rasi bintang Lyra, kemunculannya di mulai dari 16 hingga 26 April sehingga sering juga disebut April Lyrids atau Aplha Lyrids. Asalnya sendiri dari sisa komet C/1961 G1 Thatcher dengan sudut kemiringan orbit hingga hampir 80 derajat.

  1. Quadrantid

Sama seperti jenis Geminid, fenomena hujan meteor Quadrantid juga berasal dari asterodi dan berasal dari rasi Quadrands Muralis. Setiap tahunnya, sering kali muncul pada akhir bulan Desember sampai awal Januari.

BACA JUGA:  Mengenal Tentang Gerhana Matahari, Proses dan Jenis-jenisnya

Jenis ini terlihat sangat jelas jika berada pada bagian utara bumi karena arah datangnya memang ada di sisi utara. Sementara itu, jika di Indonesia akan tampak pada arah timur laut pada dini hari hingga matahari terbit.

  1. Eta Aquarids

Jenis ini berasal dari konstalasi Aquarius atau disebut juga Eta Aquarii, meskipun tidak perlu melihatnya dari arah rasi ini berasal. Hal ini karena hujan akan datang dari segala penjuru pada pertengahan April hingga akhir Mei.

Adanya hujan meteor ini berasal dari komet Halley yang muncul hanya setiap 76 tahun sekali. Untuk mengamatinya dapat dilakukan pada 02.00 dini hari.

  1. Delta Aquarids

Hujan meteor ini dari rasi bintang aquarius dan merupakan pecahan dari komet Marsden dan juga Kracht Sungrazing. Jenis ini diamati untuk pertama kalinya tahun 1870 dan sangat sulit dikenali terutama jika terdapat cahaya bulan. Puncaknya bisa hingga 20 meteor setiap jam.

Meskipun dapat terjadi sepanjang tahunnya, namun sangat langka sehingga ditunggu-tunggu untuk dapat melihatnya. Fenomena hujan meteor juga memiliki jenis-jenis sendiri dengan asal dan ciri tersendiri. (Red-detribpas.com)